Sebutan "superfood" terdengar seperti kategori khusus, tetapi istilah itu tidak memiliki definisi ilmiah dan sering dipakai sebagai istilah pemasaran [1]. Bahan yang mendapat label tersebut biasanya dikaitkan dengan kandungan antioksidan, vitamin, atau zat gizi lain yang relatif tinggi dibandingkan bahan pangan lain [1]. Karena itu, labelnya saja belum menjelaskan zat gizi mana yang menonjol atau manfaat apa yang benar-benar didukung.

Labelnya luas, kandungannya spesifik

Buah beri, kacang-kacangan, serealia semu, sayuran hijau, ikan berminyak, dan serealia utuh termasuk kelompok pangan yang kerap disebut "superfood" [1]. Ragam ini menunjukkan bahwa istilah tersebut bisa merujuk pada bahan yang sangat berbeda, bukan satu jenis pangan dengan komposisi yang sama.

Blueberry, misalnya, disebut memiliki kandungan vitamin C, vitamin K, dan mangan dalam jumlah relatif tinggi. Namun, khasiat "super" blueberry belum terbukti [1]. Contoh ini membantu membedakan informasi tentang zat gizi dari klaim bahwa suatu bahan memiliki manfaat kesehatan istimewa.

Kandungan zat gizi bukan bukti semua klaim

Perhatikan apakah promosi menyebut kandungan tertentu atau menjanjikan manfaat kesehatan yang lebih luas. Sebagian pangan yang diberi label "super" diolah menjadi ekstrak untuk pemasaran, seperti teh hijau yang dikaitkan dengan polifenol dan kedelai dengan isoflavon [1]. Sumber yang dirujuk menyebut manfaat konsumsi teh hijau belum terbukti secara luas dan klaim bahwa teh hijau mencegah kanker pernah dilarang FDA karena belum terbukti secara ilmiah [1].

Beberapa pertanyaan sederhana dapat membantu membaca label dengan lebih cermat:

  • Zat gizi apa yang disebut, dan dibandingkan dengan bahan pangan apa kandungannya dinilai tinggi? [1]
  • Apakah promosi menjelaskan kandungan, atau beralih ke klaim khasiat yang berbeda?
  • Apakah bahan itu akan menjadi bagian dari pola makan seimbang, atau justru menggantikan porsi pangan lain?

Tempatkan dalam konteks pola makan

Kata "super" juga bukan jaminan bahwa suatu bahan selalu aman dikonsumsi. Rumput laut dari spesies tertentu yang dipromosikan sebagai makanan super dapat mengandung toksin [1]. Ini bukan alasan untuk menganggap semua rumput laut berbahaya; artinya, label pemasaran sendiri tidak cukup untuk menjelaskan keamanan suatu bahan.

Risiko lain muncul jika konsumsi berlebihan membuat makanan tersebut menggantikan porsi makanan bernutrisi seimbang; hal itu dapat berdampak buruk [1]. Jadi, penilaian yang lebih berguna bukan sekadar apakah sebuah bahan disebut "superfood", melainkan kandungan apa yang dibicarakan, klaim apa yang menyertainya, dan bagaimana bahan itu ditempatkan dalam pola makan.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Makanan super. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29851229&title=Makanan_super (diakses 2026-10-18).